Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Tuesday, August 28, 2012

(Catatan SasteraLapar) : Bumbu Genep Kecil, Matur Suksma



Beberapa bulan yang lalu saya jalan-jalan ke toko buku, dan membaca sebuah buku tentang resep masakan khas Bali (dasar saya palupian, jadi lupa judulnya apa yang jelas resep-resepnya khas sekali). Disitu saya menemukan beberapa jenis bumbu seperti bumbu genep besar, genep kecil dan bumbu wangen. Bumbu genep besar dan bumbu wangen dimata saya agak ribet, apalagi kalau bumbu wangen harus tambahkan sedikit kemenyan (apa saya harus bilang WOW?...ya WOW!). Buru-buru saya catat pakai HP resep bumbu genep kecil ini.

Tuesday, August 14, 2012

(Resep SasteraLapar) : Havermut Piskuma




Category:   Breakfast & Brunch
Style:   American
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   Satu

Description:
Bangun jam 3.30 WIB, mau ke warteg untuk sahur malasnya setengah mati. Kebetulan saya sempat beli susu kedelai, kurma 300 gram dan pisang semalam sebelumnya. Ya sudah, daripada repot-repot saya olah saja. Pisau? pas tidak ada jadi saya potong pakai sendok saja...the power of kepepet. Sementara Havermutnya saya nyetok sejak lama jadi ringkas saja. Menu sahur kilat, praktis dan mengenyangkan.

Ingredients:
Susu kedelai (tidak menakar)
1 buah pisang (dipotong kecil-kecil)
3 buah kurma (disuwir-suwir)
1 sdm Madu
5 sdm Havermut (Oatmeal)

Directions:
1. Panaskan sejenak susu kedelai sampai mendidih
2. Siapkan havermut dalam mangkok
3. Siramkan susu kedelai yang sudah dipanaskan itu. Aduk rata.
4. Letakkan pisang yang sudah diiris diatasnya
5. Tambahkan kurma yang sudah disuwir-suwir
6. Tambahkan madu
7. Siap disajikan.








Friday, August 10, 2012

(Puisi SasteraLapar) : Puisi Teh

Pagi nan cerah manakala matahari bersinar cemerlang
Udaranya yang segar mewangi
Pagi kan serasa nikmat
Bila ada secangkir teh wangi mengepul
Tersaji dihadapan mata
Tinggal masukkan apa saja
Gula
Sari jeruk
Daun mint
Susu
Atau sari buah
Duh, sungguh serasa surga dunia didepan mata

(Cerita SasteraLapar) : Cerita dari Sebungkus Quaker Oats



Waktu saya sedang berbelanja (membeli belah) di sebuah pasar swalayan (supermarket), saya beli quaker oats 500 gram warna merah dan yang menarik saya adalah tulisan dikemasan depannya yakni oat segera dan oat instan. Yang saya yakini bagian segera itu Malaysia punya sedang bagian instan adalah punya Indonesia. Lalu saya baca-baca lagi bagian belakang kemasannya ada kata lemak taktepu  dan lemak tepu , yang ada kurung bahasa Indonesianya berarti lemak tak jenuh dan lemak jenuh. Selanjutnya ada istilah khasiat dimana dalam bahasa Indonesia padanannya adalah gizi, sedang kata khasiat sendiri dalam bahasa Indonesia secara artinya lebih mengacu pada jamu-jamuan atau obat-obatan (ubat). 

Semisalnya kalimat berikut :
Jamu galian singset berkhasiat untuk menurunkan berat badan.
Khasiat obat generik tidak kalah dengan obat-obatan paten.
Lalu, kata gizi  contohnya sebagai berikut :
Dewasa ini, banyak balita di Indonesia yang mengalami gizi buruk.
Kandungan gizi dalam sepiring nasi pecel sangatlah tinggi.

(Catatan SasteraLapar) : Nasi Sudah Menjadi Bubur? Jadikan Saja Bubur Ayam!


 
Ada pepatah Melayu yang berkata Nasi sudah menjadi bubur, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi. Misalnya saja kita melakukan suatu kesalahan fatal seperti menyakiti, mengecewakan atau merusak harkat diri seseorang. Kehilangan kehormatan karena sebab yang beragam, kehilangan jatidiri atau drop karena mengalami suatu kejadian, seperti dikritik, dicaci, dimaki dan dihina hingga kadang kita sendiri depresi.
Atau ada lagi seperti contoh,

Z seorang pengusaha kaya, dia bergerak dibidang bisnis properti. Namun suatu saat dia mempercayakan proyek pembangunan apartemen Y kepada orang yang salah. Orang kepercayaan Y melakukan kesalahan kecil, yang berakibat perusahaan Z mengalami kerugian besar dan nyaris mengalami kehancuran. Z, sangatlah frustasi karena dia benar-benar sepenuhnya meyakini yang bersangkutan. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.

(Catatan SasteraLapar) : Jilbab, Lemper, Bikang dan Semar Mendem

Sepuluh tahun yang lalu (sekarang 16 tahun) pada saat matakuliah Agama Islam, dosen Agama saya berkata begini :
Ibaratnya makanan, pemakai jilbab itu seperti lemper. Kenapa demikian? Karena untuk makan isi lemper kan harus dibuka dulu bungkusnya bukan? Masak ditelan sebungkus-bungkusnya? Sontak kami semua tertawa mendengarnya..Kemudian beliau melanjutkan..

Sedangkan kaum perempuan yang tidak berjilbab diibaratkan adalah kue bikang, dimana untuk menikmatinya nggak harus repot membuka bungkusnya, bahkan gampang kena debu dan pembeli bisa melihat langsung tanpa dibungkus. (edited)

(Catatan SasteraLapar) : Gado-Gado Pembauran


Pembauran itu artinya melebur, campur baur jadi satu, menyesuaikan diri atau apa ada makna lainnya? Ibaratnya lagi, pembauran itu mirip sekali dengan proses masak memasak didapur, seperti membuat gado-gado, bubur ayam, rujak, salad, pecel, atau bubur manado, dimana semua jenis makanan yang pada dasarnya berbeda dileburkan menjadi satu jenis makanan baru. 

Gado-gado misalnya, dalam satu piring terdiri dari potongan wortel, kacang panjang, tahu goreng, kentang rebus, sawi segar, ketimun, ditambah kerupuk, emping belinjo, tempe, plus bawang goreng diikat dengan saus kacang yang enak, dan masih ditambah dengan potongan telur rebus pula. Meski tidak melebur total, namun tetap menjadi wujud yang sedap dipandang dan menggoyang lidah.

(Catatan SasteraLapar) : Rujak Soto Banyuwangi


Rujak, barangkali sudah biasa. Sotopun juga demikian….dimana anda pasti sering mencicipi atau menelannya bulet-bulet berikut piringnya hingga licin tandas, iya kan? Ngaku!! Tapi bagaimana kalau rujak dan soto dijadikan satu piring? Terbayang nggak? Sebagian besar atau bahkan hampir semuanya pasti beranggapan itu suatu hil yang mustahal (kata Asmuni). 

Namun bagi masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur..mengawinkan rujak dengan soto bukan hal yang mustahil, karena itulah makanan khas mereka yang membuat lidah serasa menari Gandrung Banyuwangi (baca : gyandrung byanyowangay). Makanan jenis ini memadukan antara Soto Babat dengan Rujak Cingur atau Rujak Petis. Sekitar Agustus 1998, saya berkesempatan pergi ke Banyuwangi untuk jalan-jalan plus meneliti seni budaya sana secara langsung, disinilah saya dikenalkan dengan yang namanya Rujak Soto.

(Catatan SasteraLapar) : Pecel For The Soul


Sederhana namun kaya
Kaya namun sederhana
Mungkin layaklah jika hal itu nyata dalam sepiring atau sepincuk nasi pecel. Makanan rakyat yang sarat serat dan gizi (khasiat), yang menjadi sarapan pagi banyak kalangan, disuka dari yang gepeng (gelandangan pengemis)-jika ada kepeng- sampai kalangan berdasi yang mengkilap beraroma parfum dari Paris bebas bau keti. (hehehe). Dijualnyapun dari pinggir embong (Jw Timuran : jalan) hingga resto gedong yang harganya bisa (boleh) selangit. 

Thursday, August 9, 2012

(Resep SasteraLapar) : Kakap Asam Manis ala Nono


Category:   Meat & Seafood
Style:   Chinese
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   Suka-sukanya berapa

Description:
Memanfaatkan sisa ikan kakap goreng yang disimpan di kulkas, dan bumbu yang sederhana kalau menurut saya. Akhirnya jadilah ikan asem manis ala saya sendiri. Pedasnya sedikit saja dan sama sekali tidak melibatkan MSG dalam proses pembuatannya.

Bumbu dasarnya sama saja dengan resep sebelumnya, hanya ditambah saus tomat dan lebih banyak tomat sebagai penambah keasaman.

(Catatan SasteraLapar) : Rujak Cingur For The Soul


Bila ke Surabaya jangan lupa rujak cingur
Rasa khasnya telah harum namanya
Jika engkau suatu saat jatuh tersungkur
Bangkit kembali itulah intinya
Paduan antara yang enak dan yang tidak enak itulah yang menjadi pemadu khas rujak cingur, salah satu makanan khas Surabaya (dan Jawa Timur). Potongan hidung sapi (cingur) rebus –padahal cingur kan kesannya menjijaykan toh, aneka buah dan sayuran dipadukan dalam bumbu kacang plus petis mengubah satu jenis makanan yang nampak menjijikkan menjadi kelihatan lezat.

(Catatan SasteraLapar) : Soto Lamongan For The Soul 1


Anda tahu Soto Lamongan bukan? Soto khas wilayah Lamongan, Jawa Timur ini sangat enak. Kuah kuning gurih yang berasal dari campuran aneka bumbu termasuk warnanya yang keemasan karena bahan pewarna kunyit yang dipakai, plus potongan-potongan daun bawang, suwiran daging ayam, potongan telur rebus ditambah dengan koya (bubuk kelapa) yang makin menambah citarasa Soto Lamongan apalagi dimakan dengan sambal atau kecap. 

Saya biasanya menambahkan dua jenis kecap, yakni kecap asin dan kecap manis serta sambal yang banyak agar soto yang saya makan semakin mengundang selera. Bahkan yang suka bikin saya mikir sendiri adalah saya suka sekali menambah banyak koya ke dalam soto dengan fungsi selain mempergurih, juga mengentalkan kuah soto. Plus telur rebus satu butir, disamping itu saya selalu meminta tukang penjualnya untuk tidak memberi kulit ayam, karena saya paling benci dengan kulit ayam, biasanya sih saya meminta diambilkan daging bagian dada yang rendah lemaknya. Hmmm…enak sekali.

(Resep SasteraLapar) : Telor Petis


Category:   Side Dishes & Condiments
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   20-30 menit

Description:
Pada saat hari Raya, telur petis ini harus ada sebagai teman makan ketupat, selain dengan sayur labu siam, sambal goreng dengan tambahan urap kelapa dan bubuk kedelai…hmm, luar biasa enak. Memang nampak hitam, itu dikarenakan pengaruh petis udangnya yang pada dasarnya hitam. Bagi orang bukan Jawa Timur mungkin terdengar aneh atau terlihat ‘menjijikkan’, tetapi coba kapan-kapan mampir ke Jawa Timur, terutama pada saat hari raya. Pasti ada saja yang menyediakan telur petis ini seiring dengan ketupat. Beda suku, beda selera, beda daerah, beda citarasa.

(Catatan SasteraLapar) : KRENGSENGAN NYAMBIK (BIAWAK)

Nyambik dalam bahasa Jawa Timuran artinya sama dengan biawak (Varanus Indicus). Ukurannya minimal 50 cm, dan panjang maksimalnya bisa sampai dua meter. Biasanya hidup di daerah tambak atau rawa-rawa maupun area pinggir sungai, karena makanan utamanya adalah hewan-hewan air dan ciri fisiknya sangat serupa dengan kerabatnya di pulau Komodo sana. 

Krengsengan juga adalah makanan khas Jawa Timur yang berupa daging dimasak dengan aneka bumbu hingga mengental dan berwarna kecoklatan, rasanya sangat lezat dan asalnya dari Pasuruan.

(Catatan SasteraLapar) : Menu Favorit Hari Raya

Assalamualaikum Guys and Gals....
Masih mengenang suasana hari raya kemarin-kemarin. Mungkin tidak seberapa istimewa bagi yang lain tapi setidaknya saya pengen cerita-cerita disini. Bolelebo toh? Hal yang paling menyenangkan saat lebaran adalah, MAKAAAN!!!! huehehehehehehe.....bener kan? jangan mengelak. Disamping telah menuntaskan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang dilarang, juga membersihkan diri dari segala "kotoran". Nah, salah satunya juga adalah makanan. 

Wednesday, August 8, 2012

(Catatan SasteraLapar) : Tempe Penyet


Hmmm…tempe penyet. Tahu kan? Banyak yang tahu pastinya, tempe yang dipenyet diatas sambal tomat, kemudian dimakan panas-panas dengan nasi anget? Pasti semuanya ngerti atau malah sebaliknya..hehehehe. Makanan rakyat, murah meriah dan gampang bikinnya.

Martabak Manis atau Terang Bulan?


Ngobrol lagi yuuukkk…Sambil ngopi, makan atau ngemil nggak masyalah!
Sebenarnya ini cerita lama sekali, kurang lebih sekitar 12 tahun yang lalu. Waktu itu saya baru naik kelas satu ke kelas dua SMA, dan orangtua beserta adik bermukim di Bekasi, tepatnya dikawasan Pangkalan Pasir, Rawalumbu. Kira-kira bulan Juni 1993 itulah saya untuk kali pertama berkunjung ke Bekasi, yah hitung-hitung melepaskan diri dari ke-betean tinggal di Malang. Waktu mereka pindah, saya menolak untuk ikut karena kasihan dengan Eyang Kakung, ditambah waktu itu tinggal bersama Bude dan Pakdhe dari pihak Papa.

(Resep SasteraLapar) : Ayam Parepe



Category:   Barbecue & Grilling
Style:   Other
Servings:   15 menit persiapan, 75 menit proses masak

Description:
Sebenarnya saya dapat resepnya dari leaflet kecap Bango saat ada Festival Jajanan Nusantara di Malang hari Sabtu kemarin. Kebetulan setelah baca-baca, resep ayam parepe yang lebih mudah untuk diamalkan. Apalagi ada stok beberapa potong sayap, leher dan bagian ayam lainnya di kulkas, itulah yang dimanfaatkan.

Saya tidak tahu persis sih parepe yang aslinya seperti apa, tapi minimal cobain yang mudah-mudah dulu.

Monday, August 6, 2012

(Resep SasteraLapar) : Nasi Tomat


Category:   Breakfast & Brunch
Style:   Middle Eastern
Special Consideration:   Kosher
Servings:   30 menit - 1 jam

Description:
Resep ini pemberian dari tetangga sebelah rumah yang keturunan Arab. Ternyata membuat nasi tomat ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Sempat bikin kesalahan saat mengkaru nasi. Sayapun nggak sendirian memasaknya, karena belum pernah buat nasi macam ini, akhirnya untuk beberapa proses saya dibantu ibu saya. Alhamdulillah jadilah nasi tomat itu dengan beberapa modifikasi.

(Resep SasteraLapar) : Ayam Goreng ala Bali



Category:   Meat & Seafood
Style:   Other
Special Consideration:   Kosher
Servings:   45 menit

Description:
Resep ini terinspirasi dari tayangan Gula-Gula Bara Pattiradjawane tanggal 25 Desember 2010, kebetulan bahan-bahannya juga mudah didapat jadi langsung saja saya keesokan harinya buat. Ayamnya pilih yang ada saja, didalam kulkas embat saja. Kalau di TV ayamnya utuh, kali ini saya sesuaikan dengan kebutuhan.