Showing posts with label makan. Show all posts
Showing posts with label makan. Show all posts
Tuesday, August 28, 2012
(Catatan SasteraLapar) : Bumbu Genep Kecil, Matur Suksma
Monday, August 27, 2012
(Kembang Lambe Siang) : Mie Goreng Aceh Modifikasi Perjuangan
Tuesday, August 14, 2012
(Puisi SasteraLapar) : Sarapan
Kala kuharus tinggalkan istana kapukku
Aku terjaga
Bengong....
Tak tahu berbuat apa setelah ini...
Kubergegas pergi membersihkan diri...
Setelah kurapi, aku terdiam
Perutku yang sedari malam telah kosong melompong
Kembali melantunkan gita-gita laparnya
Ah, pagi sudah datang...
(Puisi SasteraLapar) : KARE
Kaya bumbu, penuh cita rasa
Aromamu menggoda seleraku
Kukorek-korek darimana bahan bakumu
Kucari-cari disinilah kau kutemukan
Kayu manis yang harum
Kapulaga yang menggoda
Jahe yang pedas dan panas
Daun kare yang beraroma misterius
Jintan serta aneka rempah yang bersinergi
Friday, August 10, 2012
(Cerita SasteraLapar) : Cerita dari Sebungkus Quaker Oats
Waktu saya sedang berbelanja (membeli belah) di
sebuah pasar swalayan (supermarket), saya beli quaker oats 500 gram warna merah dan yang menarik saya adalah
tulisan dikemasan depannya yakni oat
segera dan oat instan. Yang saya
yakini bagian segera itu Malaysia punya sedang bagian instan adalah punya Indonesia. Lalu saya baca-baca lagi
bagian belakang kemasannya ada kata lemak
taktepu dan lemak tepu , yang ada kurung bahasa Indonesianya berarti lemak tak jenuh dan lemak jenuh. Selanjutnya ada istilah khasiat dimana dalam bahasa Indonesia padanannya adalah gizi, sedang kata khasiat sendiri dalam bahasa Indonesia secara artinya lebih mengacu
pada jamu-jamuan atau obat-obatan (ubat).
Semisalnya kalimat berikut :
Jamu galian singset
berkhasiat untuk menurunkan berat badan.
Khasiat obat generik tidak kalah dengan obat-obatan paten.
Lalu, kata gizi
contohnya sebagai berikut :
Dewasa ini,
banyak balita di Indonesia
yang mengalami gizi buruk.
Kandungan gizi dalam sepiring nasi pecel sangatlah tinggi.
(Resep SasteraLapar) : Kering Tahu Tempe ala Nono
| Category: | Breakfast & Brunch | |
| Style: | Other | |
| Special Consideration: | Quick and Easy | |
| Servings: | 5 orang cukup |
Description:
Sebenarnya saya bingung mau dikasih nama apa, karena memang dasarnya kering tahu tempe. Cuma saya ambil gampangnya saja. Sederhana, dan tentunya terasa pedas karena saya tambahkan sambel uleg. Disajikan sebagai menu sarapan dirumah, apalagi keluarga saya baru sembuh dari sakit. Minimal 80% dihabiskan oleh mereka termasuk oleh adik ipar saya. Hehehehee.
Bahan-bahannya cukup diambil dari kulkas, yah sekalian memanfaatkan bahan makanan yang tak terpakai dirumah.
Sebenarnya saya bingung mau dikasih nama apa, karena memang dasarnya kering tahu tempe. Cuma saya ambil gampangnya saja. Sederhana, dan tentunya terasa pedas karena saya tambahkan sambel uleg. Disajikan sebagai menu sarapan dirumah, apalagi keluarga saya baru sembuh dari sakit. Minimal 80% dihabiskan oleh mereka termasuk oleh adik ipar saya. Hehehehee.
Bahan-bahannya cukup diambil dari kulkas, yah sekalian memanfaatkan bahan makanan yang tak terpakai dirumah.
(Catatan SasteraLapar) : Nasi Sudah Menjadi Bubur? Jadikan Saja Bubur Ayam!
Ada pepatah Melayu yang berkata Nasi sudah menjadi bubur,
yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat
nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan
tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi. Misalnya saja kita melakukan
suatu kesalahan fatal seperti menyakiti, mengecewakan atau merusak
harkat diri seseorang. Kehilangan kehormatan karena sebab yang beragam,
kehilangan jatidiri atau drop karena mengalami suatu kejadian, seperti
dikritik, dicaci, dimaki dan dihina hingga kadang kita sendiri depresi.
Atau ada lagi seperti contoh,
Z
seorang pengusaha kaya, dia bergerak dibidang bisnis properti. Namun
suatu saat dia mempercayakan proyek pembangunan apartemen Y kepada orang
yang salah. Orang kepercayaan Y melakukan kesalahan kecil, yang
berakibat perusahaan Z mengalami kerugian besar dan nyaris mengalami
kehancuran. Z, sangatlah frustasi karena dia benar-benar sepenuhnya
meyakini yang bersangkutan. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.
(Catatan SasteraLapar) : Gado-Gado Pembauran
Pembauran
itu artinya melebur, campur baur jadi satu, menyesuaikan diri atau apa
ada makna lainnya? Ibaratnya lagi, pembauran itu mirip sekali dengan
proses masak memasak didapur, seperti membuat gado-gado, bubur ayam,
rujak, salad, pecel, atau bubur manado, dimana semua jenis makanan yang
pada dasarnya berbeda dileburkan menjadi satu jenis makanan baru.
Gado-gado
misalnya, dalam satu piring terdiri dari potongan wortel, kacang
panjang, tahu goreng, kentang rebus, sawi segar, ketimun, ditambah
kerupuk, emping belinjo, tempe, plus bawang goreng diikat dengan saus
kacang yang enak, dan masih ditambah dengan potongan telur rebus pula.
Meski tidak melebur total, namun tetap menjadi wujud yang sedap
dipandang dan menggoyang lidah.
(Catatan SasteraLapar) : Rujak Soto Banyuwangi
Rujak,
barangkali sudah biasa. Sotopun juga demikian….dimana anda pasti sering
mencicipi atau menelannya bulet-bulet berikut piringnya hingga licin
tandas, iya kan?
Ngaku!! Tapi bagaimana kalau rujak dan soto dijadikan satu piring?
Terbayang nggak? Sebagian besar atau bahkan hampir semuanya pasti
beranggapan itu suatu hil yang mustahal (kata Asmuni).
Namun
bagi masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur..mengawinkan rujak dengan soto
bukan hal yang mustahil, karena itulah makanan khas mereka yang membuat
lidah serasa menari Gandrung Banyuwangi (baca : gyandrung byanyowangay).
Makanan jenis ini memadukan antara Soto Babat dengan Rujak Cingur atau
Rujak Petis. Sekitar Agustus 1998, saya berkesempatan pergi ke
Banyuwangi untuk jalan-jalan plus meneliti seni budaya sana secara langsung, disinilah saya dikenalkan dengan yang namanya Rujak Soto.
(Catatan SasteraLapar) : Pecel For The Soul
Sederhana namun kaya
Kaya namun sederhana
Mungkin layaklah jika hal itu nyata dalam sepiring atau
sepincuk nasi pecel. Makanan rakyat yang sarat serat dan gizi (khasiat), yang
menjadi sarapan pagi banyak kalangan, disuka dari yang gepeng (gelandangan pengemis)-jika ada kepeng- sampai kalangan
berdasi yang mengkilap beraroma parfum dari Paris bebas bau keti. (hehehe). Dijualnyapun dari pinggir embong (Jw Timuran : jalan) hingga resto gedong yang harganya bisa (boleh) selangit.
Thursday, August 9, 2012
(Resep SasteraLapar) : Kakap Asam Manis ala Nono
| Category: | Meat & Seafood | |
| Style: | Chinese | |
| Special Consideration: | Quick and Easy | |
| Servings: | Suka-sukanya berapa |
Description:
Memanfaatkan sisa ikan kakap goreng yang disimpan di kulkas, dan bumbu yang sederhana kalau menurut saya. Akhirnya jadilah ikan asem manis ala saya sendiri. Pedasnya sedikit saja dan sama sekali tidak melibatkan MSG dalam proses pembuatannya.
Bumbu dasarnya sama saja dengan resep sebelumnya, hanya ditambah saus tomat dan lebih banyak tomat sebagai penambah keasaman.
Memanfaatkan sisa ikan kakap goreng yang disimpan di kulkas, dan bumbu yang sederhana kalau menurut saya. Akhirnya jadilah ikan asem manis ala saya sendiri. Pedasnya sedikit saja dan sama sekali tidak melibatkan MSG dalam proses pembuatannya.
Bumbu dasarnya sama saja dengan resep sebelumnya, hanya ditambah saus tomat dan lebih banyak tomat sebagai penambah keasaman.
(Catatan SasteraLapar) : Rujak Cingur For The Soul
Bila ke Surabaya jangan lupa
rujak cingur
Rasa khasnya telah
harum namanya
Jika engkau suatu saat
jatuh tersungkur
Bangkit kembali itulah
intinya
Paduan antara yang enak dan yang tidak enak itulah yang
menjadi pemadu khas rujak cingur, salah satu makanan khas Surabaya (dan Jawa Timur). Potongan hidung
sapi (cingur) rebus –padahal cingur kan
kesannya menjijaykan toh, aneka buah dan sayuran dipadukan dalam bumbu kacang
plus petis mengubah satu jenis makanan yang nampak menjijikkan menjadi
kelihatan lezat.
(Catatan SasteraLapar) : Soto Lamongan For The Soul 2
Berburu warung Soto Lamongan
kadang bisa menjadi suatu kesenangan tersendiri. Semasa di Surabaya, saya
sangat hobi mencari warung Soto yang saya anggap enak. Pertama kali saya ketemu
warung Soto di dekat Jalan Gubeng Airlangga Gang IV, tepat di mulut gang yang
mengarah ke Jalan Dharmawangsa, sejak tahun 1995 sampai terakhir kali pada
akhir 2005, saya kadang berkunjung ke warung itu. Yang hanya berupa warung
sederhana dan harganyapun cukuplah bagi kantong mahasiswa seperti saya pada
masa itu.
(Catatan SasteraLapar) : Soto Lamongan For The Soul 1
Anda tahu Soto Lamongan
bukan? Soto khas wilayah Lamongan, Jawa Timur ini sangat enak. Kuah
kuning gurih yang berasal dari campuran aneka bumbu termasuk warnanya
yang keemasan karena bahan pewarna kunyit yang dipakai, plus
potongan-potongan daun bawang, suwiran daging ayam, potongan telur rebus
ditambah dengan koya (bubuk kelapa) yang makin menambah citarasa Soto Lamongan apalagi dimakan dengan sambal atau kecap.
Saya
biasanya menambahkan dua jenis kecap, yakni kecap asin dan kecap manis
serta sambal yang banyak agar soto yang saya makan semakin mengundang
selera. Bahkan yang suka bikin saya mikir sendiri adalah saya suka
sekali menambah banyak koya ke
dalam soto dengan fungsi selain mempergurih, juga mengentalkan kuah
soto. Plus telur rebus satu butir, disamping itu saya selalu meminta
tukang penjualnya untuk tidak memberi kulit ayam, karena saya paling
benci dengan kulit ayam, biasanya sih saya meminta diambilkan daging
bagian dada yang rendah lemaknya. Hmmm…enak sekali.
(Resep SasteraLapar) : Telor Petis
| Category: | Side Dishes & Condiments | |
| Style: | Other | |
| Special Consideration: | Quick and Easy | |
| Servings: | 20-30 menit |
Description:
Pada saat hari Raya, telur petis ini harus ada sebagai teman makan ketupat, selain dengan sayur labu siam, sambal goreng dengan tambahan urap kelapa dan bubuk kedelai…hmm, luar biasa enak. Memang nampak hitam, itu dikarenakan pengaruh petis udangnya yang pada dasarnya hitam. Bagi orang bukan Jawa Timur mungkin terdengar aneh atau terlihat ‘menjijikkan’, tetapi coba kapan-kapan mampir ke Jawa Timur, terutama pada saat hari raya. Pasti ada saja yang menyediakan telur petis ini seiring dengan ketupat. Beda suku, beda selera, beda daerah, beda citarasa.
Pada saat hari Raya, telur petis ini harus ada sebagai teman makan ketupat, selain dengan sayur labu siam, sambal goreng dengan tambahan urap kelapa dan bubuk kedelai…hmm, luar biasa enak. Memang nampak hitam, itu dikarenakan pengaruh petis udangnya yang pada dasarnya hitam. Bagi orang bukan Jawa Timur mungkin terdengar aneh atau terlihat ‘menjijikkan’, tetapi coba kapan-kapan mampir ke Jawa Timur, terutama pada saat hari raya. Pasti ada saja yang menyediakan telur petis ini seiring dengan ketupat. Beda suku, beda selera, beda daerah, beda citarasa.
(Catatan SasteraLapar) : Menu Favorit Hari Raya
Assalamualaikum Guys and Gals....
Masih mengenang suasana
hari raya kemarin-kemarin. Mungkin tidak seberapa istimewa bagi yang
lain tapi setidaknya saya pengen cerita-cerita disini. Bolelebo toh? Hal
yang paling menyenangkan saat lebaran adalah, MAKAAAN!!!!
huehehehehehehe.....bener kan? jangan mengelak. Disamping telah
menuntaskan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang dilarang,
juga membersihkan diri dari segala "kotoran". Nah, salah satunya juga
adalah makanan.
Wednesday, August 8, 2012
Martabak Manis atau Terang Bulan?
Ngobrol lagi yuuukkk…Sambil ngopi, makan atau ngemil nggak masyalah! 
Sebenarnya
ini cerita lama sekali, kurang lebih sekitar 12 tahun yang lalu. Waktu
itu saya baru naik kelas satu ke kelas dua SMA, dan orangtua beserta
adik bermukim di Bekasi, tepatnya dikawasan Pangkalan Pasir, Rawalumbu.
Kira-kira bulan Juni 1993 itulah saya untuk kali pertama berkunjung ke
Bekasi, yah hitung-hitung melepaskan diri dari ke-betean tinggal di
Malang. Waktu mereka pindah, saya menolak untuk ikut karena kasihan
dengan Eyang Kakung, ditambah waktu itu tinggal bersama Bude dan Pakdhe
dari pihak Papa.
(Resep SasteraLapar) : Ayam Parepe
| Category: | Barbecue & Grilling | |
| Style: | Other | |
| Servings: | 15 menit persiapan, 75 menit proses masak |
Description:
Sebenarnya saya dapat resepnya dari leaflet kecap Bango saat ada Festival Jajanan Nusantara di Malang hari Sabtu kemarin. Kebetulan setelah baca-baca, resep ayam parepe yang lebih mudah untuk diamalkan. Apalagi ada stok beberapa potong sayap, leher dan bagian ayam lainnya di kulkas, itulah yang dimanfaatkan.
Saya tidak tahu persis sih parepe yang aslinya seperti apa, tapi minimal cobain yang mudah-mudah dulu.
Sebenarnya saya dapat resepnya dari leaflet kecap Bango saat ada Festival Jajanan Nusantara di Malang hari Sabtu kemarin. Kebetulan setelah baca-baca, resep ayam parepe yang lebih mudah untuk diamalkan. Apalagi ada stok beberapa potong sayap, leher dan bagian ayam lainnya di kulkas, itulah yang dimanfaatkan.
Saya tidak tahu persis sih parepe yang aslinya seperti apa, tapi minimal cobain yang mudah-mudah dulu.
Subscribe to:
Posts (Atom)