Description:
Bangun jam 3.30 WIB, mau ke warteg untuk sahur malasnya setengah mati. Kebetulan saya sempat beli susu kedelai, kurma 300 gram dan pisang semalam sebelumnya. Ya sudah, daripada repot-repot saya olah saja. Pisau? pas tidak ada jadi saya potong pakai sendok saja...the power of kepepet. Sementara Havermutnya saya nyetok sejak lama jadi ringkas saja. Menu sahur kilat, praktis dan mengenyangkan. Ingredients: Susu kedelai (tidak menakar) 1 buah pisang (dipotong kecil-kecil) 3 buah kurma (disuwir-suwir) 1 sdm Madu 5 sdm Havermut (Oatmeal) Directions: 1. Panaskan sejenak susu kedelai sampai mendidih 2. Siapkan havermut dalam mangkok 3. Siramkan susu kedelai yang sudah dipanaskan itu. Aduk rata. 4. Letakkan pisang yang sudah diiris diatasnya 5. Tambahkan kurma yang sudah disuwir-suwir 6. Tambahkan madu 7. Siap disajikan. | ||||||||||||||||
Tuesday, August 14, 2012
(Resep SasteraLapar) : Havermut Piskuma
Friday, August 10, 2012
(Cerita SasteraLapar) : Cerita dari Sebungkus Quaker Oats
Waktu saya sedang berbelanja (membeli belah) di
sebuah pasar swalayan (supermarket), saya beli quaker oats 500 gram warna merah dan yang menarik saya adalah
tulisan dikemasan depannya yakni oat
segera dan oat instan. Yang saya
yakini bagian segera itu Malaysia punya sedang bagian instan adalah punya Indonesia. Lalu saya baca-baca lagi
bagian belakang kemasannya ada kata lemak
taktepu dan lemak tepu , yang ada kurung bahasa Indonesianya berarti lemak tak jenuh dan lemak jenuh. Selanjutnya ada istilah khasiat dimana dalam bahasa Indonesia padanannya adalah gizi, sedang kata khasiat sendiri dalam bahasa Indonesia secara artinya lebih mengacu
pada jamu-jamuan atau obat-obatan (ubat).
Semisalnya kalimat berikut :
Jamu galian singset
berkhasiat untuk menurunkan berat badan.
Khasiat obat generik tidak kalah dengan obat-obatan paten.
Lalu, kata gizi
contohnya sebagai berikut :
Dewasa ini,
banyak balita di Indonesia
yang mengalami gizi buruk.
Kandungan gizi dalam sepiring nasi pecel sangatlah tinggi.
(Resep SasteraLapar) : Kering Tahu Tempe ala Nono
| Category: | Breakfast & Brunch | |
| Style: | Other | |
| Special Consideration: | Quick and Easy | |
| Servings: | 5 orang cukup |
Description:
Sebenarnya saya bingung mau dikasih nama apa, karena memang dasarnya kering tahu tempe. Cuma saya ambil gampangnya saja. Sederhana, dan tentunya terasa pedas karena saya tambahkan sambel uleg. Disajikan sebagai menu sarapan dirumah, apalagi keluarga saya baru sembuh dari sakit. Minimal 80% dihabiskan oleh mereka termasuk oleh adik ipar saya. Hehehehee.
Bahan-bahannya cukup diambil dari kulkas, yah sekalian memanfaatkan bahan makanan yang tak terpakai dirumah.
Sebenarnya saya bingung mau dikasih nama apa, karena memang dasarnya kering tahu tempe. Cuma saya ambil gampangnya saja. Sederhana, dan tentunya terasa pedas karena saya tambahkan sambel uleg. Disajikan sebagai menu sarapan dirumah, apalagi keluarga saya baru sembuh dari sakit. Minimal 80% dihabiskan oleh mereka termasuk oleh adik ipar saya. Hehehehee.
Bahan-bahannya cukup diambil dari kulkas, yah sekalian memanfaatkan bahan makanan yang tak terpakai dirumah.
(Catatan SasteraLapar) : Nasi Sudah Menjadi Bubur? Jadikan Saja Bubur Ayam!
Ada pepatah Melayu yang berkata Nasi sudah menjadi bubur,
yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat
nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan
tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi. Misalnya saja kita melakukan
suatu kesalahan fatal seperti menyakiti, mengecewakan atau merusak
harkat diri seseorang. Kehilangan kehormatan karena sebab yang beragam,
kehilangan jatidiri atau drop karena mengalami suatu kejadian, seperti
dikritik, dicaci, dimaki dan dihina hingga kadang kita sendiri depresi.
Atau ada lagi seperti contoh,
Z
seorang pengusaha kaya, dia bergerak dibidang bisnis properti. Namun
suatu saat dia mempercayakan proyek pembangunan apartemen Y kepada orang
yang salah. Orang kepercayaan Y melakukan kesalahan kecil, yang
berakibat perusahaan Z mengalami kerugian besar dan nyaris mengalami
kehancuran. Z, sangatlah frustasi karena dia benar-benar sepenuhnya
meyakini yang bersangkutan. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.
(Catatan SasteraLapar) : Jilbab, Lemper, Bikang dan Semar Mendem
Sepuluh tahun yang lalu (sekarang 16 tahun) pada saat matakuliah Agama Islam, dosen Agama saya berkata begini :
Ibaratnya
makanan, pemakai jilbab itu seperti lemper. Kenapa demikian? Karena
untuk makan isi lemper kan harus dibuka dulu bungkusnya bukan? Masak
ditelan sebungkus-bungkusnya? Sontak kami semua tertawa mendengarnya..Kemudian beliau melanjutkan..
Sedangkan
kaum perempuan yang tidak berjilbab diibaratkan adalah kue bikang,
dimana untuk menikmatinya nggak harus repot membuka bungkusnya,
bahkan gampang kena debu dan pembeli bisa melihat langsung tanpa
dibungkus. (edited)
Subscribe to:
Posts (Atom)